Kamis, 08 Oktober 2020

Momen Revolusi Industri 4.0 melalui Pembelajaran Daring: Bencana atau Keuntungan bagi dunia pendidikan..?


Pada pertengahan 2019, saya berhasil mencapai setengah jalan untuk menyelesaikan program master. Seperti yang dilakukan banyak orang banyak orang akhir-akhir ini, saya mengambil seluruh kelas secara daring. Sebagai orang yang sangat menyukai duduk dalam ruang kelas dan menulis catatan (saya tahu, memang aneh), awalnya saya sedikit skeptis. Tidak terlalu lama saat saya menyadari betapa banyak yang akan saya pelajari, tidak hanya tentang area isinya, tetapi juga tentang bagaimana kita bisa membentuk atau memperkuat komunitas dan saling terlibat dengan cara yang cukup signifikan melalui antarmuka daring.
Menciptakan Komunitas

Pendidikan daring mengambil berbagai bentuk atau format. Teman kuliah saya juga ambil bagian dalam program yang bertemu daring setiap minggu pada jam tertentu, sementara kebanyakan kursus dan pembicaraan saya dilakukan melalui diskusi papan posting daring, respons dan jawaban secara terus-menerus, dan berbagai projek atau tugas tertulis.

Hal yang paling mengejutkan bagi saya adalah bagaimana kelompok kami ini menjadi sebuah komunitas. Setelah satu tahun belajar dengan teman-teman sekelas daring saya, saya belum bertemu muka sama sekali. Secara geografis, peserta tersebar di seluruh negeri di Indonesia yang notabenenya sangat luas terpisah oleh ribuan pulau-pulau. Namun, dari apa yang sudah saya alami dan amati dari posting diskusi, saya bisa melihat bahwa kami tahu cukup banyak tentang satu sama lain, termasuk situasi-situasi kehidupan, tujuan karier dan mimpi-mimpi, vokasi profesional pribadi dan personal saat ini, pengalaman dan peristiwa-peristiwa masa lampau yang membentuk siapa diri kami saat ini, dan hal-hal yang kami yakini, hargai, dan sayangi. Meski saya masih memilih pembicaraan dan konteks pembelajaran tatap muka, kesempatan yang kami miliki untuk memperkuat komunitas dan koneksi melalui cara daring ini sangat bagus.

Berbicara tentang para pengajar, batasan geografis tidak lagi menjadi masalah. Saya sudah mendapat kesempatan untuk belajar dari pribadi-pribadi yang ahli, baik dalam konten maupun praktis, dan yang saat ini melayani dalam bidang-bidang yang mereka geluti, entah di negari bagian lain yang dekat maupun yang jauhnya ribuan mil.

Entah kita belajar dalam lingkungan daring atau tatap muka, melalui jalur formal atau informal, selalu ada sesuatu yang bisa kit ambil pelajaran. Kita mungkin menemukan kemampuan-kemampuan baru, mengapresiasi perspektif yang berbeda, fakta-fakta menyenangkan untuk disampaikan pada acara-acara makan malam, dan, mudah-mudahan, kesempatan untuk membina iman dan menguatkan komunitas. Saya bisa terus-menerus berbicara, tetapi saya harus bergabung dalam diskusi daring yang dijadwalkan tengah malam ini.

Cerita diatas sedikit pengalaman saya mengenai pembelajaran daring. Dewasa ini, teknologi sudah berkembang pesat, segala sesuatu yang dahulu dinilai sebagai hal yang dapat membuang waktu, tenaga dan uang, kini dapat diatasi dengan adanya perkembangan teknologi baik secara alat maupun sistem informasi. Tentunya, perkembangan teknologi informasi akan memengaruhi segala aspek yang ada dalam kehidupan manusia baik dalam bidang social, ekonomi, budaya maupun pendidikan. Hal yang paling krusial adalah mengenai perkembangan pendidikan, dimana peran teknologi memiliki pengaruh yang signifikan.


Seiring berjalannya waktu, manusia saat ini harus mengikuti perkembangan zaman. Dalam dunia pendidikan, ada yang berkaitan dengan pencapaian belajar, yaitu pembelajaran daring atau secara online. Dimana dalam sitem pembelajaran tersebut, guru dapat memberikan materi pelajaran baik secara virtual maupun modul, kemudian dilanjutkan oleh penugasan dengan waktu yang ditentukan.


Setelah melihat fakta diatas, timbul sebuah pertanyaan, apakah sistem pembelajaran daring merupakan keuntungan bagi guru? Atau bahkan menjadi tantangan?

Merupakan sebuah keuntungan bagi guru , karena dalam pembelajaran daring ini, guru dapat meningkatkan keprofesionalitasannya melalui media belajar yang dibuat serta akan mampu membantu siswa dalam mengikuti pembelajaran, karena siswa dapat mengulang pembelajaran berkali kali tanpa membuat guru lelah. Tak hanya itu, pembelajran daring ini mampu untuk meningatkan mutupendidikan dengan memnfaatkan multimedia secara efektif dalam pembelajaran, serta kemampuan guru untuk menguasai teknologi pun bisa terasah dan tujuan pembelajaran akan mudah dicapai oleh siswa tanpa harus melakukan pem belajaran tatap muka dengan guru. Sehingga pada akhirnya, siswa memiliki waktu yang banyak untuk mengulang suatu materi yang diberikan, dan memicu peningkaan belajar pada siswa sehingga siswa di Indonesia akan mampu bersaing secara global.

Namun, tidak semua menganggap bahwa pembelajaran daring ini merupakan suatu keuntungan, ada pula yang menganggap sebagai tantangan. Karena tidak semua guru mampu untuk melaksanakan pembelajaran daring ini karena masih “gaptek” atau gagap teknologi. Umumnya ini dirasakan oleh guru yang sudah terlampau lama mengajar sehingga masih mengedepankan metode pembelajaran tradisional. Sejatinya, proses belajar merupakan suatu proses perubahan sikap. Dalam pembelajaran ini, guru sulit medeteksi bagaimana respon siswa terkait materi yang diajarkan, apakah siswa mengerti atau tidak, dan siswa pun kesulitan melakukan diskusi secara online, karena hal itu tidaklah mudah apabila tidak dilakukan secara langsung. Sehingga guru sulit untuk mengetahui perkembangan siswa dalam aspek afektif dan psikomotorik. Melihat tak semua siswa mampu untuk menjangkau materi pelajaran secara cepat dan ada sebagian siswa yang berkemampuan rendah, maka guru memiliki tantangan yang cukup besar untuk membuat media belajar yang mampu menyeluruh, artinya mudah dipahami oleh kebanyakan siswa dari berbagai kemampuan belajar.

Tujuan belajar sendiri yaitu tak hanya menitikberatkan terhadap aspek akademik, tetapi lebih dari itu, yaitu perubahan sikap. Indonesia tak akan maju hanya dengan akademik saja, sikap dan moral adalah yang utama. Ini merupakan tantangan yang cukup berat bagi para guru. Sehingga, pembelajaran tatap muka harus tetap dilaksanakan sampai kapanpun.

Dari berbagai hal yang telah di paparkan di atas, diperlukannya kerjasama pemerintah dengan guru untuk lebih mensosialisasikan pembelajaran daring ini kepada perwakilan guru untuk kemudian disosialisasikan kembali kepada yang lain serta melakukan pelatihan pembuatan media belajar secara virtual. Tentunya, dalam hal pensosialisasian guru ini, harus dilakukan pengawasan agar guru mendapatkan informasi secara merata. Karena mau tidak mau, zaman terus berjalan dan kita tidak hanya bisa diam ditemoat, stagnan, tanpa perubahan. Selain itu, secanggih apapun teknologi, jangan sampai kita terlena sampai melupakan kewajiban utama seorang guru yaitu mendidik dan membimbing siswa agar tetap memiliki perubahan sikap yang baik.

Harapannya, upaya-upaya yang telah dipaparkan diatas mampu mengatasi problematika abad 21 ini khususnya dalam bidang pendidikan. Semoga para pendidik di Indonesia mampu bersaing secara global dan tak pernah melupakan hakikat guru yang sesungguhnya.

0 Tanggapan di “Momen Revolusi Industri 4.0 melalui Pembelajaran Daring: Bencana atau Keuntungan bagi dunia pendidikan..? ”

Posting Komentar